Persaudaraan Universal Sejati

Persaudaraan Universal Sejati

            Dalam kunjungan audiensi kami akhir Januari tahun 2022 ini, kepada Bapa Uskup Keuskupan Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, S.X, didampingi perwakilan pengurus-pengurus organisasi yang turut hadir yakni Pemuda Katolik, PMKRI, dan Komsos Keuskupan Padang, serta Bapak Valentinus Gunawan, selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PCTA Indonesia Provinsi Sumatera Barat, sungguh membawa pencerahan, rasa optimisme, dan motivasi kaum muda Katolik berkiprah menjalin relasi terhadap semua kalangan.

            Pertemuan itu disambut baik oleh Bapa Uskup. Kehadiran organisasi PCTA Indonesia di Sumatera Barat, yang didirikan dengan berbagai perbedaan keyakinan tapi menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan sebagai anak bangsa, diharapkan dapat membawa perubahan hubungan kerjasama antar umat beragama menjadi lebih baik di masa yang akan datang, khususnya di Sumatera Barat,” demikian harapan Bapa Uskup umat Katolik yang baru.

            Dengan determinasi tahun 2022 sebagai tahun Toleransi di Keuskupan Padang yang bertopik "Semakin Memantapkan Kerjasama Antar Penganut Agama" adalah sangat tepat. Kesadaran, keterbukaan, dan kesiapsediaan bekerja sama bagi setiap umat Allah menjadi sangat penting dan harus difaktakan untuk menumbuhkan semangat kerasulan sebagai orang awam (vide : Ensiklik Apostolicam Auctositatem & Lumen Gentium) di tengah masyarakat daerah yang berpenduduk mayoritas muslim di Provinsi Sumatera Barat.

            Dunia kini terselubung kegelapan, eksploitasi terhadap seluruh alam semesta ciptaan-Nya terus terjadi. Perlakuan diskriminatif dirasakan oleh kelompok minoritas. Kelompok mayoritas mengklaim diri sebagai kelompok paling benar, seperti terlihat pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Upaya provokatif dan vandalisme dilakukan untuk menggulingkan dan menguasai lokomotif pemerintahan yang sah oleh sekelompok golongan tertentu dengan mengusung dan mengatasnamakan identitas agama.

            Sebagai umat beriman, yang mengimani Allah, pencipta alam semesta, segala ciptaan, dan seluruh umat manusia setara karena rahmat-Nya, saya terpanggil dan terlibat membaktikan diri dalam persaudaraan manusia ini dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama masyarakat miskin yang paling membutuhkan bantuan tanpa memandang apa identitasnya. Hal ini pula yang sungguh dirasakan Bapak Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi, Pemimpin Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang, Jawa Timur sekaligus pemrakarsa dan pendiri organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan atau lazim disebut PCTA Indonesia. Organisasi ini telah berdiri 12 tahun lalu, tepatnya 21 Maret 2010, di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Organisasi ini didirikan oleh para tokoh lintas agama yang memperjuangkan banyak hal terutama persoalan kebangsaan, nasionalisme dan keberagaman. Mereka adalah pejuang yang sungguh-sungguh mencintai tanah air Indonesia yang telah dikaruniai Allah kemerdekaan serta keindahan alamnya.

            Keterlibatan lebih intens pada organisasi ini diawali dengan satu fakta nyata, ketika rumah satu warga bernama Kuncoro, keluarga muslim tetangga beda RT, sangat memprihatinkan, tidak layak dan tidak sehat. Terdorong rasa persaudaraan kemanusiaan, selaku Ketua Lingkungan Santa Juliana, dan pegiat Kerawam Paroki Santo Andreas, Keuskupan Bogor, bersama rekan-rekan Relawan PCTA Indonesia menggalang sejumlah dana untuk membangun Rumah Layak Huni (RLH) secara bergotong royong.

            Setelah mempelajari lebih jauh, ternyata kegiatan ini sudah menjadi agenda tetap setiap tahun. Penyerahan kunci rumah, dilaksanakan pada momentum hari-hari bersejarah nasional seperti hari Kemerdekaan Bangsa 17 Agustus, dan hari Pahlawan 10 Nopember. Program ini diprioritaskan bagi keluarga miskin. Tujuannya membuktikan dan meyakinkan keluarga bahwa mereka tidak sendiri hidup di alam kemerdekaan negeri ini. Tujuan lain ialah memberi pengajaran bahwa setiap warga bangsa adalah anggota keluarga dari rumah bersama yakni Indonesia. Setiap warga bangsa senantiasa harus mensyukuri nikmat dari Allah berkat kemurahan hati dan keikhlasan warga bangsa yang lain membantu mewujudkan keadilan sosial seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat.

            Keterlibatan dalam kegiatan ini memberi pelajaran yang mengandung nilai tran-sendental sebagai titik awal dialog karya kemanusiaan membangun hidup berdampingan da-lam sejumlah pertemuan yang penuh suasana persahabatan dan persaudaraan universal yang sejati dengan berbagi sukacita, dukacita, dan berbagai masalah dunia kita saat ini. Dalam nama Tuhan Allah, yang telah menciptakan manusia setara dalam hak, kewajiban, martabat, dan terpanggil hidup bersama sebagai saudara dan saudari, pelestari nilai-nilai kebaikan, cinta, dan kedamaian untuk memenuhi bumi.

            Konteks ini menggambarkan bahwa keluarga sebagai inti dasar masyarakat dan umat manusia sangat penting untuk melahirkan anak-anak ke dunia, membesarkan mereka, men-didik dan membina mereka dengan pendidikan moral yang kuat dan rasa aman di rumah. Menyerang lembaga keluarga, meremehkan atau meragukan peran pentingnya, adalah salah satu kejahatan paling mengancam di era kita.

            Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, persaudaraan atau persahabatan universal sejati ini dapat terwujud, bila kita sebagai umat beriman dalam hidup menggereja, bukan hanya di kalangan umat Katolik saja tapi dengan saudara kita umat lainnya, senantiasa hidup berdampingan secara inklusif meskipun berbeda dalam banyak hal. Perbedaan itu adalah merupakan suatu anugerah yang telah diberikan Allah kepada kita sebagai anak bangsa. Tak perlu terbelenggu, bahkan menghindari pergaulan, karena paham-paham tertentu yang mengacaukan dan jauh dari sukacita dan kedamaian.

            Cita-cita bersama warga bangsa di dunia, tertuang dalam deklarasi dokumen Abu Dhabi, yang menjunjung tinggi komitmen dialogis untuk rekonsiliasi dan persaudaraan umat beriman, yang dapat memberi buah-buah roh demi terwujudnya perdamaian dunia yang abadi. (vide: Ensiklik Fratelli Tutti). Maka dari itu, “Pergilah! Kamu diutus”.

 

 Artikel : Benny J. Silaban - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PCTA Indonesia Provinsi Jawa Barat